Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Probabilitas Pemotongan Suku Bunga The Fed Tembus 71%, Namun Harga Bitcoin Masih Berpotensi Turun — Ini Penyebabnya

 

Bitcoin (BTC) telah menguat hampir 8% sejak Jumat lalu, bangkit dari level terendah barunya di sekitar US$80.500. 

Kenaikan ini bertepatan dengan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pemotongan suku bunga The Fed pada Desember.

Pemulihan harga tersebut juga didorong oleh tanda-tanda kapitulasi dari para holder jangka pendek serta salah satu arus keluar Bitcoin dari exchange terbesar dalam beberapa waktu terakhir—keduanya memicu optimisme bahwa rebound BTC dapat berlanjut. Meski demikian, sejumlah analis tetap memperingatkan potensi koreksi.

Sentimen Pasar Menguat Seiring Ekspektasi Perubahan Kebijakan The Fed

Tekanan penurunan yang mendorong Bitcoin sejak awal Oktober masih menyeretnya ke level terendah dalam beberapa bulan. Pada 21 November, harganya sempat merosot hingga US$80.522, posisi yang terakhir terlihat pada akhir April.

Namun, BTC kini menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang lebih kokoh. Berdasarkan data dari BeInCrypto Markets, harga Bitcoin berada di kisaran US$86.947 saat artikel ini ditulis, naik 1,07% dalam 24 jam terakhir.

Pendiri Capriole Fund, Charles Edwards, menilai bahwa volatilitas besar yang terjadi pada saham teknologi dan Bitcoin dipicu oleh perubahan ekspektasi pasar yang terus berubah terkait kemungkinan pemangkasan suku bunga.

Pada awal November, pasar menilai peluang pemotongan suku bunga Desember berada di sekitar 90%. Angka itu kemudian merosot ke 30%, namun kini kembali melonjak hingga di atas 70%. Edwards menjelaskan,

“Ketika sentimen pasar berbalik arah, biasanya Bitcoin ikut terdorong naik.”

Berdasarkan CME FedWatch Tool, para pelaku pasar kini memperkirakan peluang 71% bahwa The Fed akan kembali memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 10 Desember mendatang. Perkembangan ini menyusul keputusan The Fed di Oktober untuk memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75%–4,00%, yang menjadi pemotongan kedua sepanjang 2025.

Yang juga penting, bank sentral mengumumkan bahwa program pengetatan kuantitatif akan dihentikan pada 1 Desember 2025. Bersama dengan sinyal kebijakan lainnya, keputusan ini menunjukkan meningkatnya likuiditas dan biaya pinjaman yang lebih rendah—kombinasi yang biasanya mendorong minat terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.

Bitcoin Menunjukkan Indikasi Mendekati Titik Pembalikan

Selain faktor makro, data on-chain juga mengisyaratkan bahwa Bitcoin mungkin berada di dekat area titik balik. Analis Quinten François menyoroti peningkatan signifikan dalam jumlah BTC yang ditarik dari exchange, yang umumnya dianggap sebagai tanda menguatnya sentimen pasar.

“Arus keluar dari exchange baru saja mencetak salah satu lonjakan terbesar yang pernah ada. Setiap lonjakan besar pada grafik ini sebelumnya selalu menjadi awal dari rally besar,” ujar François.

Swissblock Technologies juga mencatat perubahan pada indikator Risk-Off mereka. Indikator ini mengalami penurunan tajam, menunjukkan bahwa fase kapitulasi paling ekstrem mulai mereda. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa Bitcoin mungkin berada pada tahap awal pembentukan dasar harga baru.

“Jika kita menggunakan Risk-Off sebagai acuan pembentukan bottom, pekan depan akan sangat penting. Kita perlu melihat tekanan jual terus menyusut. Biasanya, gelombang jual kedua—yang lebih lemah dan mempertahankan harga di sekitar level terendah sebelumnya—adalah salah satu sinyal dasar paling andal. Gelombang kedua itu biasanya menandai melemahnya penjual dan pergeseran kekuatan kembali ke pembeli,” jelas laporan tersebut.

Seorang analis menyoroti perbedaan perilaku antara holder Bitcoin jangka panjang dan jangka pendek. Berdasarkan data Binary CDD, holder jangka panjang cenderung mendistribusikan koin secara diam-diam saat pasar sedang kuat, dengan lonjakan aktivitas yang biasanya bertepatan dengan puncak siklus lokal atau makro. Hal ini menunjukkan bahwa pengambilan keuntungan telah berlangsung jauh sebelum terjadinya koreksi pasar.

Di sisi lain, holder jangka pendek tengah mengalami kapitulasi mendalam. Data SOPR menunjukkan bahwa investor ini menjual dengan kerugian, membentuk pita kapitulasi yang jelas di bawah 1,0.

“Meskipun ini bukan indikasi pembalikan langsung, pembersihan dari tangan-tangan lemah dan penyerapan yang terlihat di sekitar zona akumulasi lebih rendah menunjukkan bahwa pasar mungkin sedang memasuki fase akumulasi potensial,” jelas analis tersebut.

Distribusi Smart-Money dan Kapitulasi Retail

Kombinasi distribusi oleh investor cerdas di puncak pasar dan kapitulasi retail di dasar biasanya menandai tahap akhir koreksi. Namun, analis CryptoDan mengingatkan bahwa interpretasi data SOPR gabungan jangka panjang dan pendek bisa berbeda:

  • “Jika zona saat ini merupakan fase koreksi → ini bisa menjadi dasar.”

  • “Jika zona saat ini bagian dari siklus bearish → akhir penurunan masih jauh.”

Oleh karena itu, pasar harus dipantau dengan terbuka terhadap kedua kemungkinan dan disikapi secara adaptif.

Potensi Koreksi Lanjutan Bitcoin

Meski sinyal on-chain cenderung hati-hati namun optimistis, analis memperingatkan bahwa Bitcoin masih rentan mengalami volatilitas jangka pendek. Crypto Rover mencatat adanya celah CME yang terbuka sejak akhir pekan, yang biasanya tertutup dalam waktu cepat; 95% celah CME dalam lima bulan terakhir tertutup dalam tujuh hari.

Sementara itu, analis Ted Pillows memperingatkan bahwa jika Bitcoin gagal menembus kembali kisaran US$88.000–US$90.000, harganya berpotensi turun menuju level terendah bulanan baru.

Dengan demikian, meski Bitcoin menunjukkan tanda-tanda awal stabilisasi yang didukung oleh kondisi makro yang membaik dan tren on-chain yang positif, pasar belum sepenuhnya aman. Pemulihan masih memungkinkan, tetapi level resistance utama dan celah CME yang belum tertutup tetap membuka ruang untuk koreksi jangka pendek.



Posting Komentar untuk "Probabilitas Pemotongan Suku Bunga The Fed Tembus 71%, Namun Harga Bitcoin Masih Berpotensi Turun — Ini Penyebabnya"